Rabu, 27 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TANAH HUTAN ACARA I PENGAMBILAN CONTOH TANAH









Oleh :
                                           Nama        : Mr X
                                           NIM          : xx/xxxxx/KT/070xx
                                           Asisten      :--
                                           Shift          : Kamis, 15.00





LABORATORIUM ILMU TANAH HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011
ACARA I
PENGAMBILAN CONTOH TANAH

A.    TUJUAN

1.      Mahasiswa mengetahui bagaimana cara pengambilan contoh tanah.
2.  Mahasiswa mengetahui perbedaan pengambilan contoh tanah yang disesuaikan dengan sifat-sifat tanah yang akan disidik.

B.    DASAR TEORI

            Contoh tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horizon/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti secara lebih detail di laboratorium. Pengambilan contoh tanah dapat dilakukan dengan 2 teknik dasar yaitu pengambilan contoh tanah secara utuh dan pengambilan contoh tanah tidak utuh. Sebagaimana dikatakan dimuka bahwa pengambilan contoh tanah disesuaikan dengan sifat-sifat yang akan diteliti. Untuk penetapan sifat-sifat fisika tanah ada 3 macam pengambilan contoh tanah yaitu :
1.      Contoh tanah tidak terusik (undisturbed soil sample) yang diperlukan untuk analisis penetapan berat isi atau berat volume (bulk density), agihan ukuran pori (pore size distribution) dan untuk permeabilitas (konduktivitas jenuh)
2.      Contoh tanah dalam keadaan agregat tak terusik (undisturbed soil aggregate) yang diperlukan untuk penetapan agihan ukuran agregat dan derajad kemantapan agregat (aggregate stability).
3.      Contoh tanah terusik (disturbed soil sample), yang diperlukan untuk penetapan kadar lengas, tekstur, tetapan Atterberg, kenaikan kapiler, sudut singgung, kadar lengas kritik, Indeks patahan (Modulus of Rupture:MOR), konduktivitas hidroulik tak jenuh, luas permukaan (specific surface), erodibilitas (sifat keterosian) tanah menggunakan hujan tiruan (rainfall simulator).
Untuk penetapan sifat kimia tanah misalnya kandungan hara (N,P,K dll), kapasitas tukar kation (KPK), kejenuhan basa, dll digunakan pengambilan contoh tanah terusik.
(Agus, Cahyono 2009)

Menurut JACOBS.JOFFE,1949, seorang ahli tanah berkebangsaan Amerika, mengatakan tanah adalah bangunan alam yang tersusun atas horison-horison yang terdiri atas bahan-bahan mineral dan organik, biasanya tidak padu (unconsolidated) mempunyai tebal yang tidak sama dan berbeda dengan bahan induk yang ada di bawahnya dalam hal morfologi, sifat, dan susunan fisik maupun kimia serta laksana-laksana biologi.
(Bale, Anwar)

            Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir (sand) (berdiameter 2,00-0,20 mm), debu (silt) (berdiameter 0,2-0,002 mm), dan liat (clay). Terasa kasar, tanpa rasa licin dan tanpa rasa lengket, serta tidak bisa membentuk gulungan atau lempengan kontinyu, berarti tanah bertekstur pasiran. Jika partikel tanah terasa halus, lengket, dan dapat dibuat gulungan atau lempengan kontinyu, berarti tanah bertekstur liat. Tanah bertekstur debu akan mempunyai partike-partikel yang terasa agak halus dan licin tetapi tidak lengket, serta gulungan atau lempengan yang terbentuk rapuh. Tanah bertekstur lempung akan mempunyai partikel-partikel yang mempunyai rasa ketiganya secara proporsional.
(Ali, Kemas.2005)

            Warna tanah yang sering kita jumpai adalah warna kuning, merah, coklat, putih, dan hitam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas warna tanah adalah :
·        Kadar lengas dan tingkat hidratasi
·         Kadar bahan organik
·        Kadar dan mutu mineral
(Mulyani, Mul.2002)

                        Struktur tanah adalah susunan ikatan partikel-partikel satu dengan yang lain. Ikatan partikel/zarah itu berwujud atau dinamakan agregat.
Penggolongan tipe sruktur :
1.      Tipe lempung: mempunyai horizontal lebih panjang daripada vertikalnya.
2.      Tipe tiang: ukuran agregat vertikal lebih panjang daripada horizontal.
3.      Tipe gumpal: ukuran agregat vertikal dan horizontal sama panjangnya.
4.      Tipe remah: agregatnya berbentuk butir-butir yang saling mengikat seperti irisan roti.
5.      Tipe granuler: berbentuk butir-butir yang lepas-lepas, antara butir satu dengan yang lainnya tidak ada ikatan.
6.      Tipe berbutir tunggal: tanah tidak membentuk agregat tanah, berbutir tunggal.
7.      Tipe pejal: merupakan kesatuan ikatan partikel-partikel yang mampat.
(Bale, Anwar)

C.    ALAT DAN BAHAN

Alat-alat yang digunakan:
·        Jangka sorong
·        Timbangan
·        Tabung berbentuk silinder (atas dan bawah)
·        Pisau
·        Palu
·         Sekop
·        Bor

Bahannya:
Tanah disekitar/di pekarangan laboratorium.

D.    CARA KERJA

1.         Pengambilan contoh tanah terusik dengan bor.
·           Meletakkan mata bor di permukaan tubuh tanah.
·           Memutar pegangan bor perlahan-lahan ke arah kanan dengan disertai tekanan sampai seluruh kepala bor terbenam.
·           Kepala bor perlahan-lahan dikeluarkan dari tubuh tanah dengan memutar pegangan bor tanah ke arah kiri dengan disertai tarikan.
·           Contoh tanah yang terbawa kepala bor dilepaskan perlahan-lahan sampai bersih dan diusahakan tidak banyak merusak susunan tanah.
·           Pengeboran dilanjutkan lagi pada setiap ketebalan tanah 20 cm sampai kedalaman yang dikehendaki.
·           Contoh tanah hasil pengeboran pada setiap ketebalan 20 cm itu diletakkan tersusun menurut kedalaman aslinya, sehinnga akan diperoleh gambaran profil tanah.

2.    Pengambilan contoh tanah tidak terusik
·           Membersihkan bagian permukaan tubuh tanah yang akan diambil dari penutupan tumbuhan, seresah dan batu.
·           Meletakkan tabung silinder pada permukaan tanah yang akan disidik dengan bagian tajam berada disisi yang bersinggungan.
·           Menekan pelan-pelan dengan tekanan merata sampai terbenam ¾ nya.
·           Meletakkan tabung silinder kedua di atasnya, kemudian tekan sampai tabung pertama mencapai kedalaman yang diinginkan.
·           Menggali tanah disekeliling tabung hingga tabung-tabung tersebut dapat diambil secara bersamaan dalam keadaan bertautan.
·           Merapikan tanah lebihan disisi depan dan belakang dengan menggunakan pisau tajam.

E.     HASIL PERHITUNGAN

Tabel Pengambilan Contoh Tanah Terusik
Kedalaman (cm)
Struktur
Tekstur
Warna
0-20 cm
Remah
Debu Banyak
Coklat
20-40 cm
Agak Gumpal
Debu Tidak Terlalu Banyak
Coklat Agak Tua
40-60 cm
Gumpal
Debu Sedikit
Coklat Tua



Tabel Pengambilan Contoh Tanah Tidak Terusik
Lokasi
Berat Ring W1 (gr)
Berat Ring + Tanah Basah W2 (gr)
Berat Ring
+ Tanah Kering W3 (gr)
Diameter (cm)
Nisbah Luas
Jalan Setapak
a.       69.1
b.      59
a.       186.5
b.      187.6
a.       174
b.      163
a.       dd: 4.3
dl: 4.8
b.      dd: 4.3
dl: 4.8
0.24

0.24
Rerumputan
a.       68.6
b.      72
a.       176
b.      184.5
a.       174.4
b.      184.5
a.       dd: 4.21
dl: 4.81
b.      dd: 5.05
dl: .78
0.305




0.      11
Bawah Tegakan
a.       70.5
b.      64.8
a.       177
b.      181.5
a.       174
b.      175.6
a.       dd: 4.38
dl: 4.79
b.      dd: 4.31
dl: 4.79
0.19




0.23

Nisbah Luas
Ø  Jalan Setapak
a.       Nisbah Luas: (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
   : (4.82 – 4.32) : (4.3)2
   : 23.04 -18.49 : 18.49
   : 4.55 : 18.49
   : 0.24
b.      Nisbah Luas: (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
   : (4.82 – 4.32) : (4.3)2
   : 23.04 -18.49 : 18.49
   : 4.55 : 18.49
   : 0.24
Ø  Rerumputan
a.       Nisbah Luas: (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
: (4.82 – 4.212) : (4.21)2
: 23.13 – 17.72 : 17.72
: 5.41 : 17.72
: 0.305
b.      Nisbah Luas: (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
    : (5.052 – 4.782) : (4.782)
    : 25.5 – 22.84 : 22.84
    : 2.66 : 22.84
    : 0.11

Ø  Bawah Tegakan
a.       Nisbah Luas : (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
    : (4.792 – 4.382) : (4.38)2
      : 22.94 – 19.18 : 19.18
    : 3.76 : 19.18
    : 0.19
b.      Nisbah Luas : (Dluar2 – Ddalam2) : (Ddalam)2
    : (4.792 – 4.312) : (4.31)2
    : 22.94 – 18.57 : 18.57
    : 4.37 : 18.57
    : 0.23

  1. PEMBAHASAN

Pada acara ini adalah pengambilan contoh tanah. Seperti kita tahu bahwa tanah di Yogyakarta ini merupakan tanah regosol yang termasuk dalam orde entisol. Bahan induknya berasal dari letusan erupsi merapi sehingga menyebabkan lapisan atas tanah adalah lapisan muda dan semakin ke bawah tanahnya akan semakin tua. Jika tanah ini digali atau dibor maka akan terlihat, semakin ke bawah, tanah akan semakin berwarna cerah, teksturnya semakin lembut dan semakin padat. Semakin ke bawah semakin lembut karena tanah ini mengandung banyak pori sehingga dapat terjadi proses pelindihan (butir-butir tanah yang kecil akan mudah terbawa air melalui pori-pori tanah) sehingga semakin ke bawah, tanahnya akan semakin lembut. Sifat fisik tanah ini bagus karena adanya aerasi dan drainase. Tetapi tanah ini memiliki kadar nitrogen yang rendah sehingga untuk meningkatkan kadar nitrogen tersebut harus ditanami tanaman legum karena legum bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp yang membantu mengikat nitrogen dari udara masuk ke tanah.

Dalam percobaan ini dilakukan pengambilan contoh tanah terusik dengan bor dan contoh tanah tidak terusik (utuh). Dalam pengambilan contoh tanah terusik menggunakan bor sehingga kedalaman mencapai 60 cm. Setiap ketebalan 20 cm, contoh hasil tanah diletakkan tersusun menurut kedalaman aslinya, sehingga akan diperoleh gambaran profil tanah. Setelah dibor, akan terlihat warna tanah cenderung dan semakin ke bawah, warna tanah semakin terang. Hal ini disebabkan pada bagian atas terjadi dekomposisi sersah oleh organisme pengurai sehingga warnanya lebih gelap. Untuk tekstur tanah, dominan pasir dan semakin ke bawah, tekstur tanah semakin gumpal. Hal ini disebabkan karena proses pelindihan, selain itu juga kandungan airnya semakin ke bawah, tanah semakin basah. Untuk pengambilan contoh tanah tidak terusik digunakan ring yang memiliki penutup, atas dan bawah. Tabung tersebut dibenamkan ke dalam tanah dan secara hati-hati diangkat dan ditutup.





  1. KESIMPULAN

Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pengambilan contoh tanah terusik dapat dilakukan dengan cara pengeboran sedangkan pengambilan contoh tanah tak terusik (utuh) menggunakan cupu (tabung/silinder/cincin) yang dibenamkan ke dalam tanah.
2.      Untuk setiap lapisan tanah, tanah memiliki sifat fisik yang berbeda, baik dari warna, tekstur, maupun struktur.

















  1. DAFTAR PUSTAKA

Agus, Cahyono . 2009 . Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan . Fakultas Kehutanan UGM . Yogyakarta .
Ali, Kemas . 2005 . Dasar-dasar Ilmu Tanah . PT Raja Grafindo Persada . Jakarta .
Bale, Anwar . Ilmu Tanah Hutan Program Diploma III . Fakultas Kehutanan UGM . Yogyakarta.
Mulyani, Mul . 2002 . Pengantar Ilmu Tanah (Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian) . Rineka Cipta . Jakarta .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

BlogUpp!